MADURA DAN JAMAN JAHILIYAH

Kebetulan saya pribadi termasuk salah satu diantara milyaran manusia 90an yang masih bermain tiktok. Kadang saya share kegiatan saya bersama kawan-kawan secara acak, meliputi kegiatan-kegiatan yang mungkin sederhana, tapi bagi saya penuh makna. Bagaimana tidak?. Kita ini hidup pada masa, dimana keburukan di share dalam media sosial, maka kebaikan juga perlu di share, petikan-petikan kalam ulama yang berisi nasehat-nasehat juga perlu disebarluaskan agar senantiasa keburukan mendominasi. 

Akhir-akhir ini tidak sedikit masyarakat dalam dunia medsos (media-sosial) yang menyoroti orang MADURA. Tidak sedikit yang menjelek-jelekkan suku Madura, seakan-akan semua orang madura adalah penjahat, perampok, maling, pembunuh dll, hanya kerena segelintir orang yang berbuat kesalahan yang kebetulan berdarah madura. 

Seakan-akan di tahun yang serba media ini, kita diajak kembali pada jaman jahiliyah di mana antar suku -bukan antar individu- saling merasa dirinya paling kuat, paling hebat, paling jantan dan perkasa. Padahal kita ini, berada pada jaman, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyatukan persaudaraan, menghilangkan egosentris kesukuan, menyatukan antar suku dan bangsa, seperti menyatukan suku muhajirin dengan suku ansor, suku Khazraj dengan suku Aus, dll dengan satu bendera yang berkilaukan cahaya iman, yaitu bendera La ilaha illa Alloh, Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. 
Sejak itu, tidak boleh lagi satu suku dengan lainnya saling melukai. Tidak boleh lagi ada lagi satu suku menciderai suku lainya, bahkan dengan tegas, manakala satu orang daripada suku itu melakukan kejahatan, -katakan, pembunuhan-, maka akan diberlakukan hukum qisas, agar senantiasa keberlangsungan hidup manusia tetap lestari dan terjaga sehingga haram bagi siapa saja membunuh umat manusia selain dalam medan peperangan melawan musuh. 

Indonesia, dengan berbagai macam suku, bahasa dan budaya, sudah tidak pantas lagi, kalau ada kesalahan dari anak bangsa Indonesia yang berasal dari suku manapun, lalu kemudian meludahi pada semua aspek kesukuannya. Boleh kita mengkritik individu dari suku manapun yang melakukan kesalahan dengan kritikan yang membangun, kritikan cinta, kritikan perbaikan agar menjadi baik, bukan kritikan tajam bagaikan samurai yang dibumbui dengan kebencian, kebringasan dan kritikan dendam yang membara. Itu semua bukan kritikan, tapi kebencian. 

Bagi siapa saja yang memprovokasi agar satu suku dengan lainnya bentrok, meniupkan api kebencian, mengomporinya dengan ledakan emosi dan provokasi, hal ini dia akan masuk dalam katagori an-namman. Apa itu an-nammam,?. Yaitu siapa saja yang pekerjaannya adalah mengadu domba, memprovokasi agar tidak rukun sesama anak bangsa, sesama suku bangsa. Tahukah anda, balasan apa bagi orang yang tukang memprovokasi? 

Dalam literatur islam, bahkan sumber rujukan Islam yang kedua, yaitu dalam hadis Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam beliau bersabda: 
عن حذيفة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يدخل الجنة نمام. رواه البخاري ومسلم.

Artinya: Dari Sayyidina Hudzaifah radhiyallahu anhu, beliau berkata: Telah berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: Tidak akan masuk surga orang-orang yang mengadu domba. HR: Al-Bukhari dan Muslim. 

Dengan itu, marilah kita yang sudah disatukan oleh Islam, yang telah disatukan oleh bendera merah putih, satu bahasa, satu bangsa, bangsa Indonesia, jangan lagi saling memancing emosi, jangan lagi meniupkan api provokasi dengan lisan kita, dengan komentator kita, dengan tulisan kita, karena apabila dengan lisan, tulisan dan komentar kita yang menyebabkan kehancuran, pembunuhan dll, maka yang andil dalam hal itu dan yang melakukan sama-sama mendapatkan keburukan di sisi Alloh Subhanahu wata'ala, tidak sedikitpun berkurang. 

Oleh sebab itu, himbauan dari saya ini, anak bangsa Indonesia yang terpencil, jagalah Indonesia, jagalah kerukunan, lenyapkan api permusuhan sesama anak bangsa, sesama umat Islam Indonesia. 

Keterangan foto dari kiri: Orang madura, Sunda dan Betawi bersatu dalam naungan Islam dan Thoriqoh Tijaniyah,  juga dalam bendera Indonesia.

~Abi Sahla Rohmatullah Asmuni.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

𝘼𝘿𝘼𝘽 𝙆𝙀𝙋𝘼𝘿𝘼 𝘼𝘽𝙉𝘼'𝙐𝙎 𝙎𝙔𝘼𝙄𝙆𝙃 𝙎𝘼𝙔𝙔𝙄𝘿 𝘼𝙃𝙈𝘼𝘿 𝘼𝙏-𝙏𝙄𝙅𝘼𝙉𝙄

CATATAN BURDAHAN KELILING

WABAH PENYAKIT KARENA ZURRIYAH NABI