Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

JIKA MENJADI SUAMI

Kelak, jika kamu menjadi suami, pahamilah bahwa seorang perempuan justru setiap ada masalah ingin didengarkan. Yah.. Biarkanlah ia ceritakan semua masalahnya. Cukuplah bagimu setia mendengarnya, meski tak bisa memberi solusi. Jangan biarkan ia menjadi istri yang banyak bicara ke teman-temannya, tetangga, atau ibu-ibu di majelis taklim. Cukup kamu saja yang tahu. Para istri yang banyak bicara, entah gosip atau obrolan biasa, adalah korban dari suaminya yang tak mendengarkan keluh kesahnya. Kelak, jika kamu jadi suami, pahamilah, meski tinggal di rumah, tapi pekerjaan seorang istri amatlah banyak. Janganlah buru-buru memarahinya jika ada gelas yang belum dicuci misalnya. Mungkin saja ia lelah karena seharian mengurus sisi lain rumah dan mendidik anak-anak. Saling mengertilah, kalian bisa bekerja sama, bukan? Dan, yang kelak menjadi suami, janganlah melarang istrimu jika hendak mengunjungi ibu dan ayahnya. Berpuluh-puluh tahun mereka merawat dirinya, dan belum sempat membalas budi...

KAYA SETELAH MENIKAH

Sahabat : "Ya Rosul saya miskin" Rosul      : " Menikahlah" Sahabat : " Saya sudah menikah,                     tapi    masih miskin" Rosul      : " Menikahlah lagi" Sahabat : " Istri saya sudah dua,                     Tapi saya masih miskin" Rosul      : " Menikahlah lagi" Sahabat : " Istri saya sudah tiga,                    Tapi saya masih miskin Rosul      : " Menikahlah lagi" Sesudah itu sahabat itu datang dengan kecukupan membawa perniagaan kain di untanya. “Patuhilah Allah dalam apa apa yang Dia telah perintahkan padamu untuk menikah. Dia akan memenuhi janjiNya untuk membua...

PERANG MEDIA

Gambar
Karena pengaruh media, yang benar jadi salah, yang salah jadi benar, yang teman jadi musuh, yang musuh jadi teman, yang cinta jadi benci, yang benci jadi cinta, yang fanatik jadi sederhana, yang sederhana jadi fanatik, yang waras jadi gila, yang gila jadi waras, dsg. Media tak pernah lepas dari kehidupan generasi gadget. Generasi yang setiap waktunya tak pernah lepas genggaman tangannya dari informasi media. Media selalu mentransformasikan berbagai konten yang segaja disuguhkan kepada publik atas kepentingan pemegang media. Media akan menjadi surga pagi generasi gadget manakala mampu menjadikan media sebatas srana menuju tercapainya kebaikan yang tak tersampaikan kecuali dengannya. Tetapi juga akan menjadi neraka, manakala terpedaya olehnya, mengumbar kebencian, kecurigaan, menghasut, mengadu domba, menyebarkan informasi hoax fitnah, dan menstransformasikan konten-konten yang menjauhkan generasi gadget dari nilai-nilai Islam, mencuci otak dengan serangkaian transformasi yang memb...

PERANG MEDIA MANUSIA GADGET

Gambar
Perang media memang tak membunuh fisik manusia, tapi membunuh pikiran dan pengetahuan manusia.Karena media, orang yang tak pernah ketemu, duduk ngopi bersama, bisa mencintai, fanatik, dan bisa pula membenci. Karena pengaruh media, yang benar jadi salah, yang salah jadi benar, yang teman jadi musuh, yang musuh jadi teman, yang cinta jadi benci, yang benci jadi cinta, yang fanatik jadi sederhana, yang sederhana jadi fanatik, yang waras jadi gila, yang gila jadi waras, dsg. Media tak pernah lepas dari kehidupan generasi gadget. Generasi yang setiap waktunya tak pernah lepas genggaman tangannya dari informasi media. Media selalu mentransformasikan berbagai konten yang segaja disuguhkan kepada publik atas kepentingan pemegang media. Media akan menjadi surga pagi generasi gadget manakala mampu menjadikan media sebatas srana menuju tercapainya kebaikan yang tak tersampaikan kecuali dengannya. Tetapi juga akan menjadi neraka, manakala terpedaya olehnya, mengumbar kebencian, kecurigaan, ...

MAHAR BIDADARI

Gambar
MAHAR BIDADARI Diriwayatkan oleh Sayyidina Tsabit (semoga Allah meridhoinya): beliau berkata: Ayahku termasuk seorang yang asyik ibadah karena Allah pada malam sunyi. Ayahku bercerita: suatu malam aku bermimpi wanita yang sangat mempesona kecantikannya, tak seorang wanita pun di dunia yang menandinginya. Aku bertanya padanya, siapakah dirimu?. "Aku bidadari", Jawabnya. Kemudian aku meminta padanya tuk menikah denganku. Ia pun menjawab pinanglah aku di sisi Tuhanku serta berilah aku mahar (mas kawin). "Apa mas kawinmu". Tanyaku. Maharku tahajud, sahutnya. Syaikh Nawawi Al-Bantany, Kitab Nihayatuz Zain, 116. Ditarjemahkan oleh Rohmatullah Adny Asymuni