KEARIFAN MENYIKAPI DUA PANDANGAN BERBEDA
FPI bukan NU dan NU bukan FPI sebagaimana PMII bukan HMI dan HMI bukan PMII. Biarlah setiap organisasi berjalan menurut visi dan misi masing-masing. Kesalahan bagi manusia adalah kalau sampai mentuhankan organisasi, hingga lupa berkawan dan bersahabat lintas organisasi itu mengasyikkan. Memang yang menjadi tantangan internal NU adalah menjadi wasilah (perantara) bertemunya dua pemikiran yang saling tarik ulur, yaitu pemikiran yang fundamentalis kanan dan pemikiran yang fundamentalis kiri, alias liberal. (Lihat buku NU UNTUK SIAPA? Pikiran-Pikiran Reflektif Untuk Muktamar NU ke-32, karya Prof. Dr. KH. Ali Maschan Moesa, M.Si) Namun sebenarnya NU menjadi titik temu diantara kedua pemikiran tersebut, sebab NU yang dari awal bersikap tawasuth (tengah-tengah) tasamuh (toleran) tawazun (seimbang) yang menjadi interpretasi ajaran Islam ahlus sunnah wal jamaah (aswaja) yang mengikuti manhaj (metodelogi) penggagas aswaja, Imam Abu Musa al-Asy'ari dan Abul Hasan al-Maturidi yang berada di...